Pemikiran Permata.
Bacalah Yesaya 58, hai kamu yang
mengaku anak-anak terang. Apalagi jika kamu baca dan baca lagi yang merasa
begitu enggan mengganggu dirimu dengan melayani yang berkekurangan. Anda yang
hatinya dan rumahnya terlalu sempit untuk merumahkan yang tidak mempunyai
rumah, bacalah itu; anda yang bisa melihat yatim-piatu dan janda-janda tertekan
oleh tangan besi kemiskinan dan menunduk berkeras hati karena keduniawian,
bacalah itu. Takutlah anda bahwa satu pengaruh diperkenankan ke dalam
keluargamu yang menuntut anda lebih berusaha? Bacalah itu! Rasa takutmu
barangkali tidak beralasan, dan akan datang sebuah berkat, dikenal dan disadari
oleh anda setiap hari. Tetapi jika sebaliknya yang terjadi, jika diperlukan
usaha tambahan, anda bisa beralih kepada seorang yang sudah berjani: “Pada
waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih
segera.” Yesaya 58:8.
Sebabnya mengapa umat Allah tidak
memikirkan lebih banyak tentang kerohanian, dan tidak memiliki lebih banyak
iman, sebagaimana ditunjukkan kepada saya, ialah karena mereka dipersempit
pikirannya dengan kekikiran. Nabi itu berbicara kepada para pemelihara Sabat,
bukan orang-orang berdosa, bukan orang-orang yang tidak percaya, tetapi mereka
yang berpura-pura saleh. Bukanlah jumlah besarnya pertemuanmu yang diterima
Allah, bukanlah jumlah doa yang tidak terhitung jumlahnya, tetapi perbuatan
yang besar dan hal-hal yang benar dilakukan pada waktu yang tepat. Adalah
tindakan yang lebih sedikit mempedulikan diri dan lebih banyak beramal yang
diterima Tuhan, jiwa kita harus berkembang. Lalu Allah akan menjadikannya
seperti kebun yang disiram dengan air, dan airnya tak pernah kering. 2T 35,36. “Ibadah
yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita ialah mengunjungi
yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya
sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” Yakobus 1:27
Yesaya 58 - Satu Resep Ilahi
Pasal Yang Menerangkan Pekerjaan Kita.
Seluruh pasal lima puluh delapan
buku Yesaya harus dianggap sebagai satu pekabaran untuk zaman ini, yang akan
disampaikan berulang kali. Special
Testimonies, B2 p.5. Apakah yang dikatakan Tuhan dalam pasal lima puluh
delapan buku Yesaya? Seluruh pasal itu termasuk kepentingan tertinggi. 8T 159.
Saya sudah diperintahkan untuk
mengajak umat manusia supaya membaca pasal lima puluh delapan buku Yesaya.
Bacalah pasal ini dengan teliti dan pahamilah jenis pekabaran yang membawa
kehidupan ke dalam gereja-gereja. Pekerjaan penginjilan dilakukan dengan
kebebasan kita begitu juga dengan usaha kita. Bilamana anda bertemu dengan jiwa
yang sedang menderita, berikanlah itu kepada mereka. Bilamana anda mendapatkan
mereka yang lapar, berilah makanan mereka. Dalam melakukan hal ini, anda akan
bekerja sejalan dengan pelayanan penginjilan Kristus. Pekerjaan Guru adalah
satu tugas suci yang penuh kebajikan. Biarlah anggota kita dimana saja didorong
untuk mengambil bagian di dalamnya. Manuscript 7, 1908.
Pekerjaan Itu Diuraikan.
Silahkan baca Yesaya 58 (mulai
ayat 5) “Sungguh-sungguh inikah puasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari
merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan
membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah
yang kau sebutkan berpuasa, megadakan hari yang berkenan pada Tuhan? Bukan!
Berpuasa yang kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu
kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang
teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi
orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan
apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan
tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah
terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera;
kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu. Pada
waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan
berteriak minta tolong dan akan berkata: “Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi
mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak
lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau
menyerahkan kepada orang lapar apa yang kau inginkan sendiri dan memuaskan hati
orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan
seperti rembang tengah hari. Tuhan akan menuntun engkau senantiasa, dan akan
memuaskan harimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau
akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak
pernah mengecewakan.”
Inilah tugas khusus di hadapan
kita. Semua doa dan pertarakan makanan akan tidak berarti kecuali kita
menangani pekerjaan ini dengan betul. Kewajiban suci berada di pangkuan kita.
Tugas kita dijelaskan dengan terang. Tuhan berbicara kepada kita melalui
nabiNya. Pemikiran tentang Tuhan dan jalan-jalanNya bukanlah kepercayaan buta
yang mementingkan diri sebagaimana kita percayai atau inginkan. Tuhan memandang
hati. Kalau ada di sana sifat mementingkan diri, Dia mengetahuinya. Boleh saja
kita menyembunyikan tabiat kita yang sebenarnya dari saudara-saudara kita
laki-laki dan perempuan, tetapi Tuhan tahu. Tak ada yang dapat disembunyikan
dari hadapanNya.
Diterangkan tentang jenis puasa
yang bagaimana yang dapat diterima Allah. Itu adalah membagikan roti kepada
yang lapar, dan membawa ke rumah anda, orang miskin yang terbuang. Janganlah
menunggu mereka datang kepadamu. Pekerjaan itu tidak terletak pada mereka untuk
mengejar anda dan memperlakukan anda serumah dengan mereka. Andalah yang
mencari mereka dan membawa mereka ke dalam rumahmu. Anda menjaring jiwamu
dengan mereka. Dengan satu tangan menjangkau ke atas oleh iman memegang tangan
perkasa yang membawa keselamatan, dan dengan tangan kasih yang satu lagi anda
menjangkau yang tertekan dan membebaskan mereka. Tidak mungkin bagi anda
memegang tangan Allah dengan satu tangan sementara tangan yang lain digunakan
melayani kesenangan anda sendiri.
Jika anda melakukan pekerjaan
kemurahan dan kasih, apakah pekerjaan itu ternyata terlalu sukar bagimu?
Akankah anda gagal dan remuk di bawah beban, dan keluargamu kehilangan
pertolongan dan pengaruhmu? Oh, tidak; dengan hati-hati Allah telah membuang
segala keragu-raguan dalam masalah ini, dengan satu perjanjian bagimu tentang
keadaan penurutanmu. Janji ini menutupi semua yang sulit, yang paling
mengganggu, dapat mendambakan. “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti
fajar, dan lukamu akan pulih dengan segera.” Percaya saja bahwa Dia yang telah
berjanji itu adalah setia, Allah membaharui kekuatan fisik. Dan lebih lagi, Dia
mengatakan bahwa Ia akan melakukannya. “Kebenaran menjadi barisan depanmu dan
kemuliaan Tuhan barisan belakangmu.” Allah akan membangun benteng pertahanan di
sekitarmu. Janji itu tidak berhenti di situ. “Pada waktu itulah engkau akan
memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia
akan menjawab: “Ini Aku! Jika anda menghentikan tekanan dan membuang kata-kata
kesombongan, dan jika engkau mendekatkan jiwamu kepada yang lapar, “maka
terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah
hari; dan Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di
tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau seperti taman yang
diairi dengan baik, dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.” 2T
33-35.
Reformasi Rangkap-Dua Dalam Yesaya 58.
Pekerjaan yang ditentukan dalam
kata-kata ini (Yesaya 58) adalah pekerjaan yang diharuskan bagi umatNya untuk
dilakukan. Itu adalah satu pekerjaan yang ditunjuk Allah sendiri. Pekerjaan
yang menyokong hukum-hukum Allah dan membetulkan pelanggaran yang sudah
dilakukan terhadap hukum Allah, kita membaurkan rasa terharu dengan penderitaan
umat manusia. Kita menunjukkan kasih tertinggi kepada Allah, kita meninggikan
peringatanNya yang telah diinjak-injak oleh kaki-kaki yang tidak suci, dan dengan
ini kita menyatakan kemurahan, kebajikan, dan rasa kasihan yang paling lembut
bagi bangsa yang sudah berdosa. “Engkau harus megasihi sesamamu seperti dirimu
sendiri.” Sebagai satu umat kita harus memikul tugas ini. Kasih yang dinyatakan
bagi umat manusia menderita memberikan arti dan kuasa kepada kebenaran. Sp.
T, SA, no.10. pp.34.
Tafsiran Yang Benar Tentang Injil.
Hanya dengan keinginan yang tidak
mementingkan diri sendiri pada diri orang yang membutuhkan pertolongan yang
memungkinkan kita untuk memberikan demonstrasi praktis dari kebenaran-kebenaran
injil, “jika saudaramu laki-laki dan perempuan telanjang dan kekurangan makanan
sehari-hari, dan salah seorang dari kamu mengatakan, pergilah dalam damai,
hangatkan tubuhmu, dan kenyanglah; walaupun kamu tidak memberikan apa-apa
kepada mereka bahkan yang perlu untuk tubuh; apakah keuntungannya? Begitu pula
iman, kalau tidak, itu sudah mati sendirian.” “ Demikianlah tinggal ketiga hal
ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah
kasih.” (1 Korintus 13:13).
Lebih penting dari sekedar
mengkhotbahi ialah yang termasuk dalam mengkhotbahkan injil. Yang dungu diringankan; yang kecil hati
diangkat; yang sakit disembuhkan. Suara
manusia mengambil peranan dalam pekerjaan Allah. Kata-kata yang lembut, rasa simpati dan kasih
adalah untuk menyaksikan kebenaran. Doa
yang sungguh-sungguh, yang keluar dari hati sanubari, adalah untuk mendekatkan
malaikat, Tuhan akan memberimu sukses dalam pekerjaan ini; … itu terjalin
dengan hidup yang praktis, kalau dihidupkan dan dipraktekan. Persatuan pekerjaan Kekristenan untuk tubuh
dan pekerjaan Kekristenan untuk jiwa adalah penafsiran injil yang benar. RH, March 4, 1902.
Nasihat Itu Tegas.
Saya tidak meragukan para pekerja
yang terlibat dalam pekerjaan sebagaimana digariskan dalam Yesaya 58. Pasal ini tegas, dan cukup meringankan
seseorang yang ingin melakukan kehendak Allah.
Ada banyak kesempatan bagi setiap orang menjadi berkat bagi umat
manusia. Pekabaran malaikat yang ketiga
tidak diberikan sebagai cadangan dalam pekerjaan ini, tetapi itu adalah satu
dengannya. Barangkali ada, ya memang
ada, suatu bahaya dari menguburkan prinsip-prinsip agung kebenaran apabila
melakukan pekerjaan yang benar dikerjakan.
Pekerjaan ini menjadi pekerjaan seperti apa tangan itu dengan
tubuh. Kepentingan rohaniah dari jiwa
harus dijaga tetap menonjol. Letter 24, 1898.
Pekerjaan Yang Diurapi Allah
Bagi Kita.
Saya tak dapat mendorong terlalu
keras semua anggota gereja kita, semua yang benar-benar misionaris sejati,
semua yang tidak menginjak-injak hukum hari Sabat, memperhatikan pekabaran dari
pasal kelimapuluh delapan buku Yesaya.
Pekerjaan yang menguntungkan yang dikaitkan dengan pasal ini ialah
pekerjaan yang Allah tuntut dari umatNya agar dilakukan pada saat ini. Itu adalah pekerjaan yang ditunjukNya
sendiri. Kita tidak dibiarkan
meragukanNya ke mana pekabaran itu digunakan, dan waktu penggenapannya yang
mengagumkan, karena kita membacanya: “Engkau akan membangun keruntuhan yang
sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak
keturunan. Engkau akan disebutkan ‘yang
membaiki tembok yang tembus’ dan ‘yang membetulkan jalan supaya tempat itu
dapat dihuni.’ (ayat 12). Tanda
Peringatan Allah, Sabat hari ketujuh, tanda pekerjaanNya dalam menciptakan
dunia, sudah diganti oleh orang berdosa.
Umat Allah mempunyai satu pekerjaan khusus untuk dilaksanakan dalam
memperbaiki tembok yang tembus yang sudah dibuat dalam hukumNya; dan semakin
dekat kita ke akhir zaman, semakin mendesak pekerjaan itu. Semua yang mengasihi Allah kan menunjukkan
bahwa mereka memegang tanda itu dengan memelihara hukum-hukumNya. …
Bilamana gereja menerima
pekerjaan yang sudah diserahkan Allah, janji itu ialah: “Pada waktu itulah
terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera;
kebenaran menjadi barisan depanmu, dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu.” GT
265-267.
Pasal Empat
INILAH AGAMA MURNI
Agama Murni Ditegaskan.
Apakah agama murni itu? Kristus
telah memberitahukan pada kita bahwa agama murni adalah perlakuan rasa kasihan,
rasa simpati, dan kasih di dalam rumah tangga, dalam gereja dan dalam dunia
ini. Inilah jenis agama yang diajarkan
kepada anak-anak, dan bahan yang asli.
Ajarlah mereka agar jangan memusatkan pikiran pada diri mereka sendiri,
tetapi apa saja yang dibutuhkan oleh manusia yang sadang menderita, ada ladang
pekerjaan misionari. RH, Nov. 12, 1895.
Agama murni yang tidak tercemar
di hadapan Bapa ialah ini: “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan
Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan
mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”
(Yakobus 1:27). Perbuatan yang baik
adalah buah yang dituntut Kristus dari kita: Kata-kata yang manis, perbuatan
kebajikan, sikap lemah lembut bagi orang miskin, yang berkekurangan dan yang
dirundung malang. Apabila hati merasa
simpati dengan hati yang dibebani dengan kekecewaan dan kesusahan, apabila
tangan membagikan sesuatu kepada yang berkekurangan, apabila diberi pakaian
kepada yang telanjang, orang asing diundang duduk di pelataranmu dan mendapat
tempat dihatimu, malaikat datang mendekat, dan saluran jawaban ditanggapi di
sorga. 2T 25.
Ujian Allah Bagi Agama Kita.
Telah ditunjukkan kepada saya
hal-hal yang berkaitan dengan tugas kita bagi yang malang yang saya rasa itu
menjadi tugas saya untuk menulisnya pada saat ini. Saya melihat bahwa itu ada dalam pemeliharaan Allah bahwa
janda-janda dan yatim piatu, yang buta, yang tuli, yang lumpuh dan orang-orang
yang menderita dalam pelbagai cara sudah ditempatkan dalam hubungan Kristiani
yang dekat dengan gerejaNya; ini menguji umatNya dan mengembangkan tabiat yang
benar. Para malaikat Allah sedang
mengawasi bagaimana kita memperlakukan orang yang membutuhkan rasa simpati
kita, kasih sayang dan kebajikan kita yang tidak menarik. Ini adalah ujian dari Allah untuk tabiat
kita. Jikalau kita memiliki agama yang
benar versi alkitab, kita akan merasakan bahwa satu hutang dosa, kebaikan hati
dan keinginan adalah bagi Kristus demi saudara-saudaraNya; dan kita dapat
lakukan tidak kurang dari menunjukan rasa terima kasih kita sementara kita
masih berdosa dan tidak layak untuk kemurahanNya, dengan memperoleh minat yang
mendalam dan kasih yang tidak mementingkan diri bagi mereka yang adalah saudara
kita yang kurang beruntung ketimbang diri kita. Sda, Vol. 3 p.511.
Bagaimanakah Terangmu
bercahaya?
Mereka yang seharusnya jadi
terang dunia telah memancarkan cahaya samar-samar yang memuakkan. Apakah cahaya itu? Itu adalah kealiman,
kebaikan, kebenaran, kemurahan, kasih; Itu adalah pernyataan kebenaran dalam
tabiat dan kehidupan. Injil tergantung
pada kesalehan pribadi dari orang-orang percaya untuk kuasanya yang agresif,
dan Allah telah membuat persediaan melaui kematian AnakNya yang kekasih, agar
setiap jiwa dapat dipersiapkan dengan seksama untuk setiap perbuatan baik. RH,
March 24, 1891.
Tanda Yang Membedakan Agama
yang Benar Dari Yang palsu.
Rasa simpati antara seorang
dengan sesamanya manusia menjadi tanda yang membedakan mereka yang mengasihi
Allah dan takut akan Dia dari mereka yang tak peduli akan hukumNya. Berapa besar rasa simpati yang dinyatakan
Kristus dalam kedatangannya ke dunia untuk mengorbankan nyawaNya sebagai satu
korban bagi dunia yang sedang binasa! AgamaNya menuntun kepada perlakuan satu
pekerjaan misionari sejati. Dia adalah satu kuasa penyembuh, “Aku akan memiliki
kemurahan, bukan pengorbanan,” kataNya.
Inilah ujian yang digunakan oleh Pengarang Kebenaran Agung untuk
membedakan agama yang benar dari yang palsu. Manuscript 117, 1903.
Rasa simpati Yang Praktis dan
Ujian Kemurnian.
Setan mempermainkan hidup setiap
jiwa. Dia tahu bahwa rasa simpati
praktis adalah satu ujian kemurnian dan keluhuran budi, dan dia mau kerahkan
setiap usaha yang mungkin untuk menutup hati kita terhadap kebutuhan orang
lain, agar kita akhirnya tidak tergerak melihat penderitaan. Dia akan menimbulkan banyak hal untuk
menghindarkan pernyataan kasih dan rasa simpati. Begitulah caranya dia merusak Yudas. Yudas senantiasa berencana merencanakan
keuntungan bagi dirinya. Dalam hal ini
dia mewakili sebuah kelas besar yang mengaku Kristen zaman ini. Karena itu kita perlu mempelajari kasusnya
dia. Kita dekat ke Kristus sedekat
dia. Namun, sebagaimana dengan Yudas,
pergaulan dengan Kristus bukannya membuat kita satu dengan Dia, kalau tidak
menghasilkan dalam hati kita satu rasa simpati yang sungguh-sungguh bagi mereka
untuk siapa Kristus telah memberikan hidupNya, kita berada di luar Kristus,
yang menjadi bulan-bulanan penggodaan setan.
Kita harus menjaga diri terhadap
penyimpangan pertama dari kebenaran; karena satu pelanggaran, satu pengabaian
manifestasi roh Kristus, membuka jalan bagi satu lagi, masih satu lagi sampai
pikiran dikuasai oleh prinsip-prinsip musuh.
Kalau dibangun, roh mementingkan diri sendiri menjadi nafsu yang menggayang
yang tak dapat dikalahkan kecuali dengan kuasa Kristus. GT 264,265.
Agama Yang Murni Melakukan
Perbuatan Kemurahan dan Kasih.
Kesalehan yang sejati diukur
dengan pekerjaan yang sudah dilakukan.
Keahlian tidak berarti. Kedudukan
kosong melompong; satu tabiat yang serupa dengan tabiat Kristus adalah bukti
yang kita pegang bahwa Allah telah mengutus AnakNya ke dalam dunia ini. Mereka yang mengaku orang Kristen, tetapi
tidak berlaku seperti Kristus mau berlaku di tempat mereka, sangat merusak
pekerjaan Allah. Mereka salah
menggambarkan Juruselamat mereka, dan sedang berdiri di bawah warna yang palsu.…
Agama murni yang tidak tercemar
bukanlah satu perasaan, tetapi melakukan pekerjaan kemurahan dan kasih. Agama ini perlu untuk kesehatan dan
kebahagiaan. Agama itu memasuki kaabah
jiwa yang sudah tercemar, dan dengan bencana mengusir ke luar pengganggu yang
penuh dosa. Dengan mengambil takhta,
semua memusatkan pikiran pada kehadirannya, menerangi hati dengan cahaya terang
dari Matahari Kebenaran. Itu membuka
jendela jiwa menghadap sorga, membiarkan masuk sinar matahari kasih Allah. Bersamanya datanglah ketenangan dan kesabaran. Kekuatan fisik, mental dan rohani bertambah,
karena suasana sorga sebagai alat hidup yang aktif mengisi jiwa. Kristus dibentuk di dalam, pengharapan
kemuliaan, RH, Oct. 15, 1901.
Menjadi seorang pekerja, begitu
juga meneruskannya dengan sabar dalam perlakuan yang baik yang memerlukan usaha
penyangkalan diri, adalah satu pekerjaan yang mulia, yang dibanggakan sorga
dengan senyum. Pekerjaan yang setia
lebih berterima kepada Allah ketimbang kebaktian yang paling rajin dan dianggap
paling suci. Kalau bekerjasama dengan
Kristus itulah perbaktian yang benar.
Doa, bujukan dan pembicaraan adalah buah murahan, yang sering digantung;
tetapi buah-buah yang dinyatakan dalam pekerjaan yang baik, dalam mempedulikan
yang berkekurangan, yang tidak mempunyai ayah, janda, adalah buah-buah yang
asli, dan dan bertumbuh secara alamiah pada
pohon yang baik. 2T24.
Apakah Kita Anak-anak Allah?
Yang diterima Allah bukanlah
pelayanan yang penuh keresahan; bukan kekejangan emosi kealiman yang menjadikan
kita anak-anak Allah. Dia memanggil kita
supaya bekerja untuk prinsip yang benar, yang tangguh dan kekal. Jika Kristus di bentuk di dalam, pengharapan
akan kemuliaan, Dia akan dinyatakan dalam tabiat, dan akan menjadi seperti
Kristus. Kita mewakili Kristus untuk
dunia, sebagaimana Kristus mewakili Bapa.—RH, Jan. 11, 1898.
Kita mau menunjukkan kehangatan
Kekristenan dan kesungguh-sungguhan bukan karena kita sedang melakukan hal-hal
yang hebat, tetapi karena apa yang kita harapkan siapa saja orang Kristen
sejati melakukannya di tempat kita sekiranya kita ditempatkan dalam keadaan
yang sama.—Letter 68, 1898.
Tidak Capek Melakukan Yang
Baik.
Banyak sekali usaha kita terhadap
orang lain tidak dihargai dan hilang begitu saja. Tetapi ini bukan alasan bagi kita untuk
menjadi lelah dalam melakukan yang baik.
Betapa sering Yesus datang mencari buah pada tanaman yang Ia pelihara,
dan tidak mendapatkan apa-apa kecuali dedaunan! Boleh saja kita merasa kecewa
melihat hasil usaha yang terbaik, tetapi hal ini tidak seharusnya menuntun kita
menjadi acuh tak acuh terhadap kesengsaraan orang lain dan tidak berbuat
apa-apa. “Kutukilah kota Yeros!” firman
Malaikat Tuhan, “kutukilah habis-habisan penduduknya, karena mereka tidak
datang membantu Tuhan, membantu Tuhan sebagai pahlawan.” 3T525.
Dalam Melakukannya Bagi Orang
Lain, Kita melakukannya Bagi Kristus.
Dari apa yang telah ditunjukkan kepada saya, para
pemelihara hari Sabat semakin mementingkan diri sendiri sementara mereka
semakin kaya. Berkurang kasihnya bagi
Kristus dan bagi umatNya. Mereka tidak
melihat kebutuhan orang yang miskin dan penderitaan, mereka mengabaikan Kristus
dan dalam menghilangkan kebutuhan dan penderitaan orang miskin sedapat mungkin,
mereka melayani Kristus Yesus.…
“Dan Ia akan berkata juga kepada
mereka yang di sebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang
terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan
malaikat-malaikatnya, sebab ketika aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan;
ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu
tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang; kamu tidak memberi Aku
pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu merekapun menjawab Dia, katanya: Tuhan,
bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing,
atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara, dan kami tidak melayani Engkau?
Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu
yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu
tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka
ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup
yang kekal. Matius 25: 41-46.
Di sini Yesus menggabungkan
diriNya dengan umatNya yang sedang menderita.
Akulah dia yang lapar dan haus.
Akulah dia orang asing itu. Akulah
dia yang telanjang. Akulah dia yang
sakit. Akulah dia yang ada dalam
penjara. Ketika engkau menyantap makanan
mewah di atas meja makan, Aku sedang sekarat mau mati dalam gubuk atau jalanan
tidak jauh darimu. Bilamana engkau
menutup pintu untuk Aku, ketika kosong kamarmu yang lengkap, aku tidak tahu mau
dimana meletakkan kepalaku. Lemari
pakaianmu penuh dengan persediaan pakaian ganti dan sarana ini tidak perlu
dibuang, yang sebenarnya engkau bisa berikan kepada orang yang
berkekurangan. Itu adalah kemelaratan
pakaian yang menyenangkan. Sementara
engkau menikmati kesehatan, saya sakit.
Nasib sial membuang Aku ke penjara dan mengikat Aku dengan rantai,
menundukkan semangatku, menghalangi kebebasan dan pengharapanKu, sementara
engkau mengembara dengan bebas. Betapa
erat kesatuan yang digambarkan Yesus disini yang terjalin antara diriNya dengan
umatNya yang sedang menderita! Dia
menjadikan kasus mereka menjadi milikNya.
Dia memperkenalkan diriNya dalam pribadi penderita itu. Hei Markus, orang Kristen yang mementingkan
diri sendiri: setiap pengabaian terhadap orang miskin yang berkekurangan, anak
yatim piatu, yang tidak punya ayah, adalah mengabaikan Yesus secara pribadi.
Saya mengenal baik orang-orang
yang berprofesi tinggi, yang hatinya begitu tertawa dalam mengasihi diri dan
sifat mementingkan diri sehingga mereka tidak dapat menghargai apa yang sedang
saya tulis. Mereka memiliki pemikiran
kehidupan dan hidup hanya untuk diri sendiri.
Berkorban melakukan yang baik kepada orang lain, melakukan yang baik
kepada orang lain, merugikan diri sendiri untuk menguntungkan orang lain, itu
tidak masuk akal mereka. Mereka tidak
mempunyai pemikiran sedikitpun tentang apa yang dikehendaki Allah dari mereka. Diri adalah ilah mereka. Minggu, bulan dan tahun-tahun yang berharga
berlalu ke dalam kekekalan, tetapi mereka tidak mempunyai catatan di sorga
tentang perlakuan kasih, tentang pengorbanan untuk orang lain, tentang memberi
makan orang yang kelaparan, memberi pakaian kepada orang telanjang, atau menjamu
orang asing. Menjamu orang asing secara
spekulasi itu tidak disetujui. Sekiranya
mereka tahu bahwa semua yang berusaha membagikan kelimpahan adalah orang
berjasa, kemudian mereka akan tergoda melakukan sesuatu dalam jurusan ini. Tetapi ada keuntungan berspekulasi tentang
sesuatu. Kesempatan kalau kita menjamu
malaikat. Sda, Vol. 2, pp. 24-26.
Pasal Lima
PERUMPAMAAN TENTANG ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI
Digambarkan Kodrat Agama Yang
Benar.
Dalam cerita orang Samaria yang
baik hati, Kristus menggambarkan agama yang benar. Dia menunjukan bahwa agama bukanlah system,
keyakinan atau tatacara, tetapi dalam pelaksanaan perbuatan yang penuh kasih,
dalam membawa yang terbaik kepada orang lain, dalam kebaikan yang murni…
Pelajaran ini tidak sedikit dibutuhkan di dunia ini pada zaman ini ketimbang
kalau itu keluar dari bibir Yesus. Sifat
mementingkan diri dan formalitas yang dingin sudah memadamkan nyala api kasih
dan mengusir kemurahan yang harus mengharumkan tabiat. Banyak yang mengakui namaNya telah kehilangan
pandangan tentang fakta bahwa orang-orang Kristen mewakili Kristus. Kecuali ada pengorbanan diri yang praktis
demi kebaikan orang lain, dalam lingkaran keluarga, dalam lingkungan, dalam
gereja, dan dimana saja, lalu apa saja keahlian, kita bukan orang Kristen. DA 497, 504.
Siapakah Tetanggaku?
Ada pertanyaan di antara
orang-orang Yahudi, “Siapakah tetanggaku?” menimbulkan persoalan yang tidak
habis-habisnya. Mereka tidak meragukan
siapa orang kafir dan siapa orang Samaria.
Mereka ini adalah orang asing dan musuh.
Tetapi dimanakah harus dibuat perbedaan di antara bangsa mereka sendiri,
dan diantara kelas-kelas sosial? Siapakah yang dianggap imam, guru, tua-tua,
sebagai tetangganya? Mereka menghabiskan hidup dalam putaran upacara untuk
menyucikan diri mereka. Kalau
berhubungan dengan orang banyak yang bodoh dan tidak peduli, menurut pikiran
mereka, itu akan menyebabkan pencemaran yang memerlukan usaha yang melelahkan
untuk menghapuskannya. Apakah mereka
menganggap “yang tidak halal” sebagai tetangga mereka?
Pertanyaan ini sudah dijawab
Kristus dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Dia telah menunjukan bahwa tetangga kita
bukanlah sekedar seorang anggota jemaat atau yang seiman kemana kita termasuk
di dalamnya. Tak ada hubungan dengan
suku, warna kulit, atau perbedaan kelas.
Tetangga kita adalah setiap orang yang membutuhkan pertolongan
kita. Tetangga kita adalah setiap jiwa
yang terluka dan memar karena ulah musuh.
Tetangga kita adalah setiap orang yang menjadi harta milik Allah. COL 376.
Dilukiskan Oleh Perumpamaan.
Kristus sedang berbicara kepada
kelompok orang banyak. Orang-orang yang
mengharapkan dapat menangkap sesuatu dari bibirNya yang mereka dapat gunakan
untuk mencela Dia, mengutus seorang pengacara kepadaNya dengan pertanyaan,
“Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus
membaca lembaran buku yang terbuka, dan jawabanNya kepada yang bertanya itu
begini, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab
orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan
kasihilah sesamu manusia seperti dirimu sendiri.”
”Jawabmu itu benar; perbuatlah
demikian, maka engkau akan hidup” Kata Yesus.
Pengacara itu tahu bahwa dengan jawabannya sendiri dia sudah mencela
dirinya sendiri. Dia tahu bahwa dia
tidak mengasihi tetangganya seperti diri sendiri, dia bertanya, “Dan siapakah
sesamaku manusia?” Kristus menjawab pertanyaan ini dengan menceritakan
peristiwa yang masih segar dalam ingatan para pendengarNya. Manuscript 117,
1903.
Jawab Yesus, “Adalah seorang yang
turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-prnyamun yang
bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya, dan sesudah
itu pergi meninggalkannya setengah mati.”
Dalam perjalanan dari Yerusalem ke
Yerikho, pejalan kaki itu harus melewati sebagian dari padang belantara
Yudea. Jalan itu menurun ke satu tebing
yang terjal, yang didiami oleh perampok dan sering tampak keganasan. Di sinilah si pejalan kaki itu diserang, dipreteli
semua barang berharga, dan meninggalkannya setengah mati tergeletak di pinggir
jalan. Sementara tergeletak begitu,
lewatlah seorang imam dari jalan itu; dia melihat orang itu tergeletak dan
terluka dan memar, berlumuran darahnya sendiri; tetapi dia meninggalkannya
tanpa memberi pertolongan apapun.
“Tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Kemudian tampaklah seorang Lewi. Karena ingin tahu apa yang telah terjadi, dia
berhenti dan memandang penderita itu.
Dia merasa yakin atas apa yang harus ia lakukan, tetapi itu bukanlah
tugas yang disetujui. Dia ingin agar ia
tidak melihat orang yang terluka itu.
Dia membujuk dirinya sendiri bahwa kasus itu bukan urusannya, dan dia
juga “melewatinya dari seberang jalan.”
Tetapi seorang Samaria, berjalan
di jalan yang sama, melihat si penderita, dan ia melakukan pekerjaan yang orang
lain itu tidak mau lakukan. Dengan
kelemahlembutan dia melayani orang yang terluka itu. “Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah
hatinya oleh belas kasihan… ia pergi
kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah itu ia menyiraminya dengan minyak
dan anggur. Kemudian ia menaikan orang
itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan
dan merawatnya. Keesokan harinya ia
menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan
jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali.”
Sang imam dan orang lewi keduanya
mengaku orang saleh, tetapi orang Samaria menunjukan bahwa dia benar-benar
sudah bertobat. Pekerjaan itu tidak
lebih cocok bagi dia untuk melakukannya ketimbang bagi sang imam dan orang
Lewi, tetapi dalam roh dan pekerjaan dia membuktikan dirinya seirama dengan
Allah. Dalam memberikan pelajaran ini,
Kristus memperkenalkan prinsip hukum dengan cara langsung dan secara paksa,
menunjukan kepada umatNya bahwa mereka telah mengabaikan pembawaan prinsip ini. Kata-kataNya begitu pasti dan terarah
sehingga para pendengarNya tidak menemukan kesempatan untuk bertengkar. Pengacara itu tidak dapat menemukan apa yang
dapat dikritiknya. Purbasangka terhadap
Kristus sudah dipindahkan. Tetapi dia
tidak mengatasi kebenciannya terhadap bangsa lain untuk memuji orang Samaria
dengan namanya. Ketika Kristus bertanya,
“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia
dari orang yang jatuh ke tangan penyamn itu?” Jawab orang itu, “Orang yang
telah menunjukan belas kasihan kepadanya.”
“Kemudian Yesus berkata
kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Tunjukanlah kebaikan yang sama
lembutnya bagi mereka yang membutuhkan.
Dengan demikian engkau memberikan bukti bahwa engkau memelihara hukum
secara keseluruhan. COL 379, 380.
Siapapun Dia, Yang Berkekurangan Adalah Sesama Kita.
Manusia manapun yang membutuhkan
rasa simpati dan pertolongan kita adalah tetangga kita. Yang sedang menderita dan yang papa dari
semua tingkatan adalah sesama kita; dan ketika kita mengetahui kebutuhan
mereka, adalah kewajiban kita untuk membebaskan sejauh mungkin.—4 226, 227.
Dengan perumpamaan ini sudah
ditetapkan untuk selamanya kewajiban manusia terhadap sesamanya. Kita mempedulikan setiap kasus penderitaan
dan memandang diri kita sebagai perwakilan Allah untuk membebaskan yang
berkekurangan sampai batas kesanggupan kita.
Kita menjadi mitra kerja Allah.
Sebagian menunjukkan kasih sayang yang meluap terhadap sanak famili,
terhadap sahabat-sahabat mereka dan kesayangan mereka, mereka yang masih gagal
berbuat baik, dan penuh perhatian kepada mereka yang membutuhkan kebaikan dan
kasih sayang. Dengan hati yang
sungguh-sungguh, marilah kita bertanya, siapakah sesamaku? Sesama kita bukanlah
sekedar teman sejawat dan sahabat dekat; mereka bukanlah anggota gereja atau
siapa saja yang kita pikirkan. Sesama
kita adalah umat manusia secara keseluruhan.
Kita berbuat baik kepada semua manusia, khususnya mereka yang satu iman
dengan kita. Kita memberikan kepada
dunia satu pertunjukan tentang apa artinya mengamalkan hukum Allah. Kita mengasihi Allah dengan segenap hati dan
sesama seperti diri kita sendiri. RH, dan I, 1895.
Agama Yang Benar Disalahgambarkan.
Sang imam dan orang Lewi itu
sudah pernah berbakti, yang acaranya ditentukan oleh Allah sendiri. Adalah satu kesempatan besar dan tinggi untuk
mengambil bagian dalam kebaktian; sang imam dan orang Lewi merasa bahwa sesudah
dihormati begitu rupa, adalah di bawah derajat mereka untuk melayani seorang
penderita yang tidak dikenal yang tergeletak di pinggir jalan. Dengan demikian mereka mengabaikan kesempatan
khusus yang ditawarkan Allah kepada mereka sebagai wakilNya untuk memberkati
sesama manusia.
Sekarang ini banyak yang membuat
kesalahan yang sama. Mereka membagi
tugas ke dalam dua kelas yang berbeda.
Kelas yang satu terdiri dari perkara-perkara besar, yang diatur oleh
hukum Allah; kelas kedua terdiri dari apa yang disebut masalah-masalah kecil,
di mana terdapat perintah, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri,” yang
ini diabaikan. Lingkungan pekerjaan ini
bisa diubah sewaktu-waktu, dibawah kecenderungan atau gerak hati. Dengan demikian tabiat dirusak dan agama
Kristus disalahgambarkan.
Ada orang yang berpendapat bahwa
itu akan merendahkan derajat melayani umat manusia yang sedang menderita. Banyak yang melihat dengan acuh tak acuh dan
merasa puas terhadap mereka yang membiarkan kaabah jiwa dalam keadaan
rusak. Yang lain mengabaikan orang
miskin dengan motivasi yang berbeda. Mereka
bekerja, sebagaimana menurut kepercayaan mereka, dalam pekerjaan Kristus,
berusaha membangun satu perusahaan yang berfaedah. Mereka merasa bahwa mereka sedang melakukan
pekerjaan besar, dan mereka tidak mau mampir untuk memperhatikan kebutuhan
orang yang berkekurangan dan menderita.
Dalam memajukan mereka yang dianggap besar itu, bahkan mereka menindas
orang miskin. Mereka boleh menempatkan
orang miskin itu dalam keadaan yang sukar dan berat, tidak menghormati hak
mereka dan mengabaikan kebutuhan mereka.
Namun mereka merasa bahwa semuanya ini dibenarkan karena mereka, sebagaimana
pemikiran mereka, sedang memajukan pekerjaan Kristus. COL
382, 383.
Jangkauan - Jauh Tuntutan Hukum Allah.
Membiarkan tetangga tetap
menderita adalah satu pelanggaran hukum Allah.
Allah membawa imam sepanjang jalan agar dengan mata kepalanya sendiri
dia boleh melihat satu kasus yang memerlukan kemurahan dan pertolongan; tetapi
imam itu, walaupun memangku satu jabatan kudus, yang pekerjaannya seharusnya
memberikan kemurahan dan berbuat baik, dia melewatinya dari seberang jalan. Tabiatnya dinyatakan dalam kodrat yang
sebenarnya di hadapan malaikat-malaikat Allah.
Untuk mengelabuhi orang dia dapat mengucapkan doa-doa yang panjang,
tetapi dia tidak dapat mempertahankan prinsip hukum dalam mengasihi Allah
dengan segenap hati dan sesama manusia seperti diri sendiri. Orang Lewi itu berasal dari suku yang sama
dengan penderita yang terluka dan memar.
Seluruh sorga memperhatikan sementara orang Lewi menuruni jalan itu,
melihat apakah hatinya terjamah atau tersentuh dengan penderitaan umat
manusia. Sementara dia memandang orang
itu, dia diyakinkan tentang apa yang ia harus lakukan; tetapi karena tugas itu
bukan yang disetujui, dia ingin agar tidak melewati jalan itu, agar dia tidak
melihat orang itu yang terluka dan memar, telanjang dan sedang sekarat, dan
membutuhkan pertolongan dari sesama manusia.
Dia terus berjalan, membujuk dirinya bahwa tidak ada urusannya dengan
itu, dan dia tidak perlu terganggu dengan urusan itu. Menegakkan dirinya seorang pembeber hukum,
menjadi pelayan dalam perkara-perkara kudus, dia tetap berlalu dari seberang
jalan.
Diselubungi dalam tiang awan,
Tuhan Yesus telah memberikan petunjuk khusus tentang perlakuan tindakan
kemurahan terhadap manusia dan binatang.
Sementara hukum Allah menuntut hukum Allah yang tertinggi dan kasih yang
tidak memihak terhadap sesama kita adalah tuntutan jangkauan jauh, juga memasukkan
hewan ciptaan dungu yang tak dapat dengan kata-kata mengungkapkan kebutuhan dan
penderitaannya. ”Apabila engkau melihat
keledai saudaramu atau lembunya rebah di jalan, janganlah engkau pura-pura
tidak tahu; engkau harus benar-benar menolong membangunkannya bersama-sama
dengan saudaramu itu.” Ulangan 22:4. Dia
yang mengasihi Allah bukan hanya mau mengasihi sesamanya manusia, tetapi akan
menghargai dengan rasa iba yang lemah lembut binatang peliharaan yang telah di
ciptakan Allah. Kalau Roh Allah berada
dalam manusia, itu menuntun dia untuk menghilangkan penderitaan, bukan untuk
membangkitkannya. RH, Jan. 1, 1895.
Prinsip Hukum Allah Dilupakan.
Sang imam dan orang Lewi itu
tidak dimaafkan karena pengabaikan dengan sikap hati dingin, Hukum kemurahan
dan kebaikan hati jelas disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama. Adalah pekerjaan yang sudah ditentukan bagi
mereka untuk melayani kasus seperti itu sebagaimana seorang yang mereka lewati
dengan hati dingin. Sekiranya mereka
menuruti hukum yang mereka hormati menurut mereka, mereka tidak akan melawati
orang ini tanpa menolongnya. Tetapi
mereka sudah melupakan prinsip hukum yang Kristus telah berikan kepada nenek
moyang mereka sementara Dia menuntun mereka sepanjang padang belantara melalui
tiang awan yang menyelubungiNya.
Siapakah sesamaku? Inilah
pertanyaan yang perlu dipahami semua gereja kita. Sekiranya sang imam dan orang Lewi membaca
dan memahami sandi Ibrani, akan jauh berbeda pelayanan mereka terhadap orang
yang terluka itu. Manuscript 117, 1903.
Kondisi Untuk Mewarisi Hidup Kekal.
Kondisi untuk mewarisi hidup
kekal jelas dikatakan Juruselamat kita dengan cara yang paling sederhana. Orang yang dirampok dan dilukai mewakili mereka
yang menjadi target keinginan, rasa simpati dan amal kita, jikalau kita
mengabaikan kasus yang berkekurangan dan yang malang yang dibawa ke bawah
perhatian kita, tak peduli siapakah mereka, kita tidak memiliki jaminan hidup
kekal; karena kita tidak menanggapi tuntutan Allah bagi kita. Kita tidak berbelas kasihan dan merasa
terharu terhadap umat manusia, karena mereka mungkin kenalan atau sanak
kita. Engkau didapati melanggar hukum
besar yang kedua kemana bergantung enam hukum terakhir lainnya. Barangsiapa melanggar satu melanggar
sepuluh. Mereka yang tidak membuka hati
mereka kepada kebutuhan dan penderitaan umat manusia tidak akan membuka hati
mereka kepada tuntutan Allah sebagaimana disebut dalam empat nasihat pertama
dari Sepuluh Firman. Berhala mendambakan
perhatian dan kasih sayang, dan Allah tidak dihormati dan tidak memerintah
dalam posisi tertinggi. 3T 524.
Kesempatanmu dan Kesempatanku.
Sekarang ini Allah memberi
kesempatan kepada manusia untuk menunjukkan apakah mereka mengasihi sesama manusia. Dia yang benar-benar mengasihi Allah dan
sesama manusia adalah dia yang menunjukkan kemurahan kepada orang yang papa dan
melarat, yang menderita, yang terluka, dan mereka yang sekarat diap untuk mati. Allah memanggil atau melakukan pekerjaan yang
terabaikan itu, berusaha memulihkan gambar Pencipta dalam rupa manusia. Letter
113, 1901.
Bagaimana Kita Mengasihi Sesama Manusia Seperti Diri Kita Sendiri.
Kita dapat mengasihi sesama
seperti diri kita sendiri sebagaimana kita mengasihi Allah di atas segala
sesuatu. Kasih Allah akan mengeluarkan
buah kasih kepada sesama kita. Banyak
mengira bahwa kita tidak dapat mengasihi sesama sebagai diri kita sendiri,
tetapi hanya itulah buah sejati dari Kekristenan. Kasih kepada orang lain menempatkan Yesus
Kristus berjalan dan bekerja bersama kita.
Dengan demikian kita tetap memandang kepada Yesus, yang memimpin dan
menyempurnakan iman kita. RH, June 26, 1894.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar