Rabu, 15 Agustus 2012

Bagian II - RENCANA ALLAH BAGI JEMAATNYA


Pemikiran Permata.
Bacalah Yesaya 58, hai kamu yang mengaku anak-anak terang. Apalagi jika kamu baca dan baca lagi yang merasa begitu enggan mengganggu dirimu dengan melayani yang berkekurangan. Anda yang hatinya dan rumahnya terlalu sempit untuk merumahkan yang tidak mempunyai rumah, bacalah itu; anda yang bisa melihat yatim-piatu dan janda-janda tertekan oleh tangan besi kemiskinan dan menunduk berkeras hati karena keduniawian, bacalah itu. Takutlah anda bahwa satu pengaruh diperkenankan ke dalam keluargamu yang menuntut anda lebih berusaha? Bacalah itu! Rasa takutmu barangkali tidak beralasan, dan akan datang sebuah berkat, dikenal dan disadari oleh anda setiap hari. Tetapi jika sebaliknya yang terjadi, jika diperlukan usaha tambahan, anda bisa beralih kepada seorang yang sudah berjani: “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih segera.” Yesaya 58:8.

Sebabnya mengapa umat Allah tidak memikirkan lebih banyak tentang kerohanian, dan tidak memiliki lebih banyak iman, sebagaimana ditunjukkan kepada saya, ialah karena mereka dipersempit pikirannya dengan kekikiran. Nabi itu berbicara kepada para pemelihara Sabat, bukan orang-orang berdosa, bukan orang-orang yang tidak percaya, tetapi mereka yang berpura-pura saleh. Bukanlah jumlah besarnya pertemuanmu yang diterima Allah, bukanlah jumlah doa yang tidak terhitung jumlahnya, tetapi perbuatan yang besar dan hal-hal yang benar dilakukan pada waktu yang tepat. Adalah tindakan yang lebih sedikit mempedulikan diri dan lebih banyak beramal yang diterima Tuhan, jiwa kita harus berkembang. Lalu Allah akan menjadikannya seperti kebun yang disiram dengan air, dan airnya tak pernah kering. 2T 35,36. “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” Yakobus 1:27

Yesaya 58 - Satu Resep Ilahi
Pasal Yang Menerangkan Pekerjaan Kita.
Seluruh pasal lima puluh delapan buku Yesaya harus dianggap sebagai satu pekabaran untuk zaman ini, yang akan disampaikan berulang kali. Special Testimonies, B2 p.5. Apakah yang dikatakan Tuhan dalam pasal lima puluh delapan buku Yesaya? Seluruh pasal itu termasuk kepentingan tertinggi. 8T 159.

Saya sudah diperintahkan untuk mengajak umat manusia supaya membaca pasal lima puluh delapan buku Yesaya. Bacalah pasal ini dengan teliti dan pahamilah jenis pekabaran yang membawa kehidupan ke dalam gereja-gereja. Pekerjaan penginjilan dilakukan dengan kebebasan kita begitu juga dengan usaha kita. Bilamana anda bertemu dengan jiwa yang sedang menderita, berikanlah itu kepada mereka. Bilamana anda mendapatkan mereka yang lapar, berilah makanan mereka. Dalam melakukan hal ini, anda akan bekerja sejalan dengan pelayanan penginjilan Kristus. Pekerjaan Guru adalah satu tugas suci yang penuh kebajikan. Biarlah anggota kita dimana saja didorong untuk mengambil bagian di dalamnya. Manuscript 7, 1908.

Pekerjaan Itu Diuraikan.
Silahkan baca Yesaya 58 (mulai ayat 5) “Sungguh-sungguh inikah puasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kau sebutkan berpuasa, megadakan hari yang berkenan pada Tuhan? Bukan! Berpuasa yang kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan akan berkata: “Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan  tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kau inginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. Tuhan akan menuntun engkau senantiasa, dan akan memuaskan harimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.”

Inilah tugas khusus di hadapan kita. Semua doa dan pertarakan makanan akan tidak berarti kecuali kita menangani pekerjaan ini dengan betul. Kewajiban suci berada di pangkuan kita. Tugas kita dijelaskan dengan terang. Tuhan berbicara kepada kita melalui nabiNya. Pemikiran tentang Tuhan dan jalan-jalanNya bukanlah kepercayaan buta yang mementingkan diri sebagaimana kita percayai atau inginkan. Tuhan memandang hati. Kalau ada di sana sifat mementingkan diri, Dia mengetahuinya. Boleh saja kita menyembunyikan tabiat kita yang sebenarnya dari saudara-saudara kita laki-laki dan perempuan, tetapi Tuhan tahu. Tak ada yang dapat disembunyikan dari hadapanNya.

Diterangkan tentang jenis puasa yang bagaimana yang dapat diterima Allah. Itu adalah membagikan roti kepada yang lapar, dan membawa ke rumah anda, orang miskin yang terbuang. Janganlah menunggu mereka datang kepadamu. Pekerjaan itu tidak terletak pada mereka untuk mengejar anda dan memperlakukan anda serumah dengan mereka. Andalah yang mencari mereka dan membawa mereka ke dalam rumahmu. Anda menjaring jiwamu dengan mereka. Dengan satu tangan menjangkau ke atas oleh iman memegang tangan perkasa yang membawa keselamatan, dan dengan tangan kasih yang satu lagi anda menjangkau yang tertekan dan membebaskan mereka. Tidak mungkin bagi anda memegang tangan Allah dengan satu tangan sementara tangan yang lain digunakan melayani kesenangan anda sendiri.

Jika anda melakukan pekerjaan kemurahan dan kasih, apakah pekerjaan itu ternyata terlalu sukar bagimu? Akankah anda gagal dan remuk di bawah beban, dan keluargamu kehilangan pertolongan dan pengaruhmu? Oh, tidak; dengan hati-hati Allah telah membuang segala keragu-raguan dalam masalah ini, dengan satu perjanjian bagimu tentang keadaan penurutanmu. Janji ini menutupi semua yang sulit, yang paling mengganggu, dapat mendambakan. “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih dengan segera.” Percaya saja bahwa Dia yang telah berjanji itu adalah setia, Allah membaharui kekuatan fisik. Dan lebih lagi, Dia mengatakan bahwa Ia akan melakukannya. “Kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu.” Allah akan membangun benteng pertahanan di sekitarmu. Janji itu tidak berhenti di situ. “Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan menjawab: “Ini Aku! Jika anda menghentikan tekanan dan membuang kata-kata kesombongan, dan jika engkau mendekatkan jiwamu kepada yang lapar, “maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari; dan Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau seperti taman yang diairi dengan baik, dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.” 2T 33-35.
           
Reformasi Rangkap-Dua Dalam Yesaya 58.
Pekerjaan yang ditentukan dalam kata-kata ini (Yesaya 58) adalah pekerjaan yang diharuskan bagi umatNya untuk dilakukan. Itu adalah satu pekerjaan yang ditunjuk Allah sendiri. Pekerjaan yang menyokong hukum-hukum Allah dan membetulkan pelanggaran yang sudah dilakukan terhadap hukum Allah, kita membaurkan rasa terharu dengan penderitaan umat manusia. Kita menunjukkan kasih tertinggi kepada Allah, kita meninggikan peringatanNya yang telah diinjak-injak oleh kaki-kaki yang tidak suci, dan dengan ini kita menyatakan kemurahan, kebajikan, dan rasa kasihan yang paling lembut bagi bangsa yang sudah berdosa. “Engkau harus megasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.” Sebagai satu umat kita harus memikul tugas ini. Kasih yang dinyatakan bagi umat manusia menderita memberikan arti dan kuasa kepada kebenaran. Sp. T, SA, no.10. pp.34.

Tafsiran Yang Benar Tentang Injil.
Hanya dengan keinginan yang tidak mementingkan diri sendiri pada diri orang yang membutuhkan pertolongan yang memungkinkan kita untuk memberikan demonstrasi praktis dari kebenaran-kebenaran injil, “jika saudaramu laki-laki dan perempuan telanjang dan kekurangan makanan sehari-hari, dan salah seorang dari kamu mengatakan, pergilah dalam damai, hangatkan tubuhmu, dan kenyanglah; walaupun kamu tidak memberikan apa-apa kepada mereka bahkan yang perlu untuk tubuh; apakah keuntungannya? Begitu pula iman, kalau tidak, itu sudah mati sendirian.” “ Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13).

Lebih penting dari sekedar mengkhotbahi ialah yang termasuk dalam mengkhotbahkan injil.  Yang dungu diringankan; yang kecil hati diangkat; yang sakit disembuhkan.  Suara manusia mengambil peranan dalam pekerjaan Allah.  Kata-kata yang lembut, rasa simpati dan kasih adalah untuk menyaksikan kebenaran.  Doa yang sungguh-sungguh, yang keluar dari hati sanubari, adalah untuk mendekatkan malaikat, Tuhan akan memberimu sukses dalam pekerjaan ini; … itu terjalin dengan hidup yang praktis, kalau dihidupkan dan dipraktekan.  Persatuan pekerjaan Kekristenan untuk tubuh dan pekerjaan Kekristenan untuk jiwa adalah penafsiran injil yang benar.  RH, March 4, 1902.
Nasihat Itu Tegas.
Saya tidak meragukan para pekerja yang terlibat dalam pekerjaan sebagaimana digariskan dalam Yesaya 58.  Pasal ini tegas, dan cukup meringankan seseorang yang ingin melakukan kehendak Allah.  Ada banyak kesempatan bagi setiap orang menjadi berkat bagi umat manusia.  Pekabaran malaikat yang ketiga tidak diberikan sebagai cadangan dalam pekerjaan ini, tetapi itu adalah satu dengannya.  Barangkali ada, ya memang ada, suatu bahaya dari menguburkan prinsip-prinsip agung kebenaran apabila melakukan pekerjaan yang benar dikerjakan.  Pekerjaan ini menjadi pekerjaan seperti apa tangan itu dengan tubuh.  Kepentingan rohaniah dari jiwa harus dijaga tetap menonjol. Letter 24, 1898.

Pekerjaan Yang Diurapi Allah Bagi Kita.­­
Saya tak dapat mendorong terlalu keras semua anggota gereja kita, semua yang benar-benar misionaris sejati, semua yang tidak menginjak-injak hukum hari Sabat, memperhatikan pekabaran dari pasal kelimapuluh delapan buku Yesaya.  Pekerjaan yang menguntungkan yang dikaitkan dengan pasal ini ialah pekerjaan yang Allah tuntut dari umatNya agar dilakukan pada saat ini.  Itu adalah pekerjaan yang ditunjukNya sendiri.  Kita tidak dibiarkan meragukanNya ke mana pekabaran itu digunakan, dan waktu penggenapannya yang mengagumkan, karena kita membacanya: “Engkau akan membangun keruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan.  Engkau akan disebutkan ‘yang membaiki tembok yang tembus’ dan ‘yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni.’ (ayat 12).  Tanda Peringatan Allah, Sabat hari ketujuh, tanda pekerjaanNya dalam menciptakan dunia, sudah diganti oleh orang berdosa.  Umat Allah mempunyai satu pekerjaan khusus untuk dilaksanakan dalam memperbaiki tembok yang tembus yang sudah dibuat dalam hukumNya; dan semakin dekat kita ke akhir zaman, semakin mendesak pekerjaan itu.  Semua yang mengasihi Allah kan menunjukkan bahwa mereka memegang tanda itu dengan memelihara hukum-hukumNya. …

Bilamana gereja menerima pekerjaan yang sudah diserahkan Allah, janji itu ialah: “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu, dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu.” GT 265-267.

Pasal Empat
INILAH AGAMA MURNI

Agama Murni Ditegaskan.
Apakah agama murni itu? Kristus telah memberitahukan pada kita bahwa agama murni adalah perlakuan rasa kasihan, rasa simpati, dan kasih di dalam rumah tangga, dalam gereja dan dalam dunia ini.  Inilah jenis agama yang diajarkan kepada anak-anak, dan bahan yang asli.  Ajarlah mereka agar jangan memusatkan pikiran pada diri mereka sendiri, tetapi apa saja yang dibutuhkan oleh manusia yang sadang menderita, ada ladang pekerjaan misionari. RH, Nov. 12, 1895.

Agama murni yang tidak tercemar di hadapan Bapa ialah ini: “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” (Yakobus 1:27).  Perbuatan yang baik adalah buah yang dituntut Kristus dari kita: Kata-kata yang manis, perbuatan kebajikan, sikap lemah lembut bagi orang miskin, yang berkekurangan dan yang dirundung malang.  Apabila hati merasa simpati dengan hati yang dibebani dengan kekecewaan dan kesusahan, apabila tangan membagikan sesuatu kepada yang berkekurangan, apabila diberi pakaian kepada yang telanjang, orang asing diundang duduk di pelataranmu dan mendapat tempat dihatimu, malaikat datang mendekat, dan saluran jawaban ditanggapi di sorga. 2T 25.

Ujian Allah Bagi Agama Kita.
Telah ditunjukkan kepada saya hal-hal yang berkaitan dengan tugas kita bagi yang malang yang saya rasa itu menjadi tugas saya untuk menulisnya pada saat ini.    Saya melihat bahwa itu ada dalam pemeliharaan Allah bahwa janda-janda dan yatim piatu, yang buta, yang tuli, yang lumpuh dan orang-orang yang menderita dalam pelbagai cara sudah ditempatkan dalam hubungan Kristiani yang dekat dengan gerejaNya; ini menguji umatNya dan mengembangkan tabiat yang benar.  Para malaikat Allah sedang mengawasi bagaimana kita memperlakukan orang yang membutuhkan rasa simpati kita, kasih sayang dan kebajikan kita yang tidak menarik.  Ini adalah ujian dari Allah untuk tabiat kita.  Jikalau kita memiliki agama yang benar versi alkitab, kita akan merasakan bahwa satu hutang dosa, kebaikan hati dan keinginan adalah bagi Kristus demi saudara-saudaraNya; dan kita dapat lakukan tidak kurang dari menunjukan rasa terima kasih kita sementara kita masih berdosa dan tidak layak untuk kemurahanNya, dengan memperoleh minat yang mendalam dan kasih yang tidak mementingkan diri bagi mereka yang adalah saudara kita yang kurang beruntung ketimbang diri kita. Sda, Vol. 3 p.511.

Bagaimanakah Terangmu bercahaya?
Mereka yang seharusnya jadi terang dunia telah memancarkan cahaya samar-samar yang memuakkan.  Apakah cahaya itu? Itu adalah kealiman, kebaikan, kebenaran, kemurahan, kasih; Itu adalah pernyataan kebenaran dalam tabiat dan kehidupan.  Injil tergantung pada kesalehan pribadi dari orang-orang percaya untuk kuasanya yang agresif, dan Allah telah membuat persediaan melaui kematian AnakNya yang kekasih, agar setiap jiwa dapat dipersiapkan dengan seksama untuk setiap perbuatan baik. RH, March 24, 1891.

Tanda Yang Membedakan Agama yang Benar Dari Yang palsu.
Rasa simpati antara seorang dengan sesamanya manusia menjadi tanda yang membedakan mereka yang mengasihi Allah dan takut akan Dia dari mereka yang tak peduli akan hukumNya.  Berapa besar rasa simpati yang dinyatakan Kristus dalam kedatangannya ke dunia untuk mengorbankan nyawaNya sebagai satu korban bagi dunia yang sedang binasa! AgamaNya menuntun kepada perlakuan satu pekerjaan misionari sejati. Dia adalah satu kuasa penyembuh, “Aku akan memiliki kemurahan, bukan pengorbanan,” kataNya.  Inilah ujian yang digunakan oleh Pengarang Kebenaran Agung untuk membedakan agama yang benar dari yang palsu. Manuscript 117, 1903.

Rasa simpati Yang Praktis dan Ujian Kemurnian. 
Setan mempermainkan hidup setiap jiwa.  Dia tahu bahwa rasa simpati praktis adalah satu ujian kemurnian dan keluhuran budi, dan dia mau kerahkan setiap usaha yang mungkin untuk menutup hati kita terhadap kebutuhan orang lain, agar kita akhirnya tidak tergerak melihat penderitaan.  Dia akan menimbulkan banyak hal untuk menghindarkan pernyataan kasih dan rasa simpati.  Begitulah caranya dia merusak Yudas.  Yudas senantiasa berencana merencanakan keuntungan bagi dirinya.  Dalam hal ini dia mewakili sebuah kelas besar yang mengaku Kristen zaman ini.  Karena itu kita perlu mempelajari kasusnya dia.  Kita dekat ke Kristus sedekat dia.  Namun, sebagaimana dengan Yudas, pergaulan dengan Kristus bukannya membuat kita satu dengan Dia, kalau tidak menghasilkan dalam hati kita satu rasa simpati yang sungguh-sungguh bagi mereka untuk siapa Kristus telah memberikan hidupNya, kita berada di luar Kristus, yang menjadi bulan-bulanan penggodaan setan.
Kita harus menjaga diri terhadap penyimpangan pertama dari kebenaran; karena satu pelanggaran, satu pengabaian manifestasi roh Kristus, membuka jalan bagi satu lagi, masih satu lagi sampai pikiran dikuasai oleh prinsip-prinsip musuh.  Kalau dibangun, roh mementingkan diri sendiri menjadi nafsu yang menggayang yang tak dapat dikalahkan kecuali dengan kuasa Kristus.  GT 264,265.

Agama Yang Murni Melakukan Perbuatan Kemurahan dan Kasih.
Kesalehan yang sejati diukur dengan pekerjaan yang sudah dilakukan.  Keahlian tidak berarti.  Kedudukan kosong melompong; satu tabiat yang serupa dengan tabiat Kristus adalah bukti yang kita pegang bahwa Allah telah mengutus AnakNya ke dalam dunia ini.  Mereka yang mengaku orang Kristen, tetapi tidak berlaku seperti Kristus mau berlaku di tempat mereka, sangat merusak pekerjaan Allah.  Mereka salah menggambarkan Juruselamat mereka, dan sedang berdiri di bawah warna yang palsu.…

Agama murni yang tidak tercemar bukanlah satu perasaan, tetapi melakukan pekerjaan kemurahan dan kasih.  Agama ini perlu untuk kesehatan dan kebahagiaan.  Agama itu memasuki kaabah jiwa yang sudah tercemar, dan dengan bencana mengusir ke luar pengganggu yang penuh dosa.  Dengan mengambil takhta, semua memusatkan pikiran pada kehadirannya, menerangi hati dengan cahaya terang dari Matahari Kebenaran.  Itu membuka jendela jiwa menghadap sorga, membiarkan masuk sinar matahari kasih Allah.  Bersamanya datanglah ketenangan dan kesabaran.  Kekuatan fisik, mental dan rohani bertambah, karena suasana sorga sebagai alat hidup yang aktif mengisi jiwa.  Kristus dibentuk di dalam, pengharapan kemuliaan, RH, Oct. 15, 1901.

Menjadi seorang pekerja, begitu juga meneruskannya dengan sabar dalam perlakuan yang baik yang memerlukan usaha penyangkalan diri, adalah satu pekerjaan yang mulia, yang dibanggakan sorga dengan senyum.  Pekerjaan yang setia lebih berterima kepada Allah ketimbang kebaktian yang paling rajin dan dianggap paling suci.  Kalau bekerjasama dengan Kristus itulah perbaktian yang benar.  Doa, bujukan dan pembicaraan adalah buah murahan, yang sering digantung; tetapi buah-buah yang dinyatakan dalam pekerjaan yang baik, dalam mempedulikan yang berkekurangan, yang tidak mempunyai ayah, janda, adalah buah-buah yang asli, dan dan bertumbuh secara alamiah pada  pohon yang baik. 2T24.
           
Apakah Kita Anak-anak Allah?
Yang diterima Allah bukanlah pelayanan yang penuh keresahan; bukan kekejangan emosi kealiman yang menjadikan kita anak-anak Allah.  Dia memanggil kita supaya bekerja untuk prinsip yang benar, yang tangguh dan kekal.  Jika Kristus di bentuk di dalam, pengharapan akan kemuliaan, Dia akan dinyatakan dalam tabiat, dan akan menjadi seperti Kristus.  Kita mewakili Kristus untuk dunia, sebagaimana Kristus mewakili Bapa.—RH, Jan. 11, 1898.

Kita mau menunjukkan kehangatan Kekristenan dan kesungguh-sungguhan bukan karena kita sedang melakukan hal-hal yang hebat, tetapi karena apa yang kita harapkan siapa saja orang Kristen sejati melakukannya di tempat kita sekiranya kita ditempatkan dalam keadaan yang sama.—Letter 68, 1898.

Tidak Capek Melakukan Yang Baik.
Banyak sekali usaha kita terhadap orang lain tidak dihargai dan hilang begitu saja.  Tetapi ini bukan alasan bagi kita untuk menjadi lelah dalam melakukan yang baik.  Betapa sering Yesus datang mencari buah pada tanaman yang Ia pelihara, dan tidak mendapatkan apa-apa kecuali dedaunan! Boleh saja kita merasa kecewa melihat hasil usaha yang terbaik, tetapi hal ini tidak seharusnya menuntun kita menjadi acuh tak acuh terhadap kesengsaraan orang lain dan tidak berbuat apa-apa.  “Kutukilah kota Yeros!” firman Malaikat Tuhan, “kutukilah habis-habisan penduduknya, karena mereka tidak datang membantu Tuhan, membantu Tuhan sebagai pahlawan.” 3T525.

Dalam Melakukannya Bagi Orang Lain, Kita melakukannya Bagi Kristus.
Dari  apa yang telah ditunjukkan kepada saya, para pemelihara hari Sabat semakin mementingkan diri sendiri sementara mereka semakin kaya.  Berkurang kasihnya bagi Kristus dan bagi umatNya.  Mereka tidak melihat kebutuhan orang yang miskin dan penderitaan, mereka mengabaikan Kristus dan dalam menghilangkan kebutuhan dan penderitaan orang miskin sedapat mungkin, mereka melayani Kristus Yesus.…

“Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya, sebab ketika aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang; kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.  Lalu merekapun menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara, dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.  Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.  Matius 25: 41-46.

Di sini Yesus menggabungkan diriNya dengan umatNya yang sedang menderita.  Akulah dia yang lapar dan haus.  Akulah dia orang asing itu.  Akulah dia yang telanjang.  Akulah dia yang sakit.  Akulah dia yang ada dalam penjara.  Ketika engkau menyantap makanan mewah di atas meja makan, Aku sedang sekarat mau mati dalam gubuk atau jalanan tidak jauh darimu.  Bilamana engkau menutup pintu untuk Aku, ketika kosong kamarmu yang lengkap, aku tidak tahu mau dimana meletakkan kepalaku.  Lemari pakaianmu penuh dengan persediaan pakaian ganti dan sarana ini tidak perlu dibuang, yang sebenarnya engkau bisa berikan kepada orang yang berkekurangan.  Itu adalah kemelaratan pakaian yang menyenangkan.  Sementara engkau menikmati kesehatan, saya sakit.  Nasib sial membuang Aku ke penjara dan mengikat Aku dengan rantai, menundukkan semangatku, menghalangi kebebasan dan pengharapanKu, sementara engkau mengembara dengan bebas.  Betapa erat kesatuan yang digambarkan Yesus disini yang terjalin antara diriNya dengan umatNya yang sedang  menderita! Dia menjadikan kasus mereka menjadi milikNya.  Dia memperkenalkan diriNya dalam pribadi penderita itu.  Hei Markus, orang Kristen yang mementingkan diri sendiri: setiap pengabaian terhadap orang miskin yang berkekurangan, anak yatim piatu, yang tidak punya ayah, adalah mengabaikan Yesus secara pribadi.
           
Saya mengenal baik orang-orang yang berprofesi tinggi, yang hatinya begitu tertawa dalam mengasihi diri dan sifat mementingkan diri sehingga mereka tidak dapat menghargai apa yang sedang saya tulis.  Mereka memiliki pemikiran kehidupan dan hidup hanya untuk diri sendiri.  Berkorban melakukan yang baik kepada orang lain, melakukan yang baik kepada orang lain, merugikan diri sendiri untuk menguntungkan orang lain, itu tidak masuk akal mereka.  Mereka tidak mempunyai pemikiran sedikitpun tentang apa yang dikehendaki Allah dari mereka.  Diri adalah ilah mereka.  Minggu, bulan dan tahun-tahun yang berharga berlalu ke dalam kekekalan, tetapi mereka tidak mempunyai catatan di sorga tentang perlakuan kasih, tentang pengorbanan untuk orang lain, tentang memberi makan orang yang kelaparan, memberi pakaian kepada orang telanjang, atau menjamu orang asing.  Menjamu orang asing secara spekulasi itu tidak disetujui.  Sekiranya mereka tahu bahwa semua yang berusaha membagikan kelimpahan adalah orang berjasa, kemudian mereka akan tergoda melakukan sesuatu dalam jurusan ini.  Tetapi ada keuntungan berspekulasi tentang sesuatu.  Kesempatan kalau kita menjamu malaikat. Sda, Vol. 2, pp. 24-26.


Pasal Lima
PERUMPAMAAN TENTANG ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI

Digambarkan Kodrat Agama Yang Benar.
Dalam cerita orang Samaria yang baik hati, Kristus menggambarkan agama yang benar.  Dia menunjukan bahwa agama bukanlah system, keyakinan atau tatacara, tetapi dalam pelaksanaan perbuatan yang penuh kasih, dalam membawa yang terbaik kepada orang lain, dalam kebaikan yang murni… Pelajaran ini tidak sedikit dibutuhkan di dunia ini pada zaman ini ketimbang kalau itu keluar dari bibir Yesus.  Sifat mementingkan diri dan formalitas yang dingin sudah memadamkan nyala api kasih dan mengusir kemurahan yang harus mengharumkan tabiat.  Banyak yang mengakui namaNya telah kehilangan pandangan tentang fakta bahwa orang-orang Kristen mewakili Kristus.  Kecuali ada pengorbanan diri yang praktis demi kebaikan orang lain, dalam lingkaran keluarga, dalam lingkungan, dalam gereja, dan dimana saja, lalu apa saja keahlian, kita bukan orang Kristen.  DA 497, 504.

Siapakah Tetanggaku?
Ada pertanyaan di antara orang-orang Yahudi, “Siapakah tetanggaku?” menimbulkan persoalan yang tidak habis-habisnya.  Mereka tidak meragukan siapa orang kafir dan siapa orang Samaria.  Mereka ini adalah orang asing dan musuh.  Tetapi dimanakah harus dibuat perbedaan di antara bangsa mereka sendiri, dan diantara kelas-kelas sosial? Siapakah yang dianggap imam, guru, tua-tua, sebagai tetangganya? Mereka menghabiskan hidup dalam putaran upacara untuk menyucikan diri mereka.  Kalau berhubungan dengan orang banyak yang bodoh dan tidak peduli, menurut pikiran mereka, itu akan menyebabkan pencemaran yang memerlukan usaha yang melelahkan untuk menghapuskannya.  Apakah mereka menganggap “yang tidak halal” sebagai tetangga mereka?

Pertanyaan ini sudah dijawab Kristus dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati.  Dia telah menunjukan bahwa tetangga kita bukanlah sekedar seorang anggota jemaat atau yang seiman kemana kita termasuk di dalamnya.  Tak ada hubungan dengan suku, warna kulit, atau perbedaan kelas.  Tetangga kita adalah setiap orang yang membutuhkan pertolongan kita.  Tetangga kita adalah setiap jiwa yang terluka dan memar karena ulah musuh.  Tetangga kita adalah setiap orang yang menjadi harta milik Allah.  COL 376.

Dilukiskan Oleh Perumpamaan.
Kristus sedang berbicara kepada kelompok orang banyak.  Orang-orang yang mengharapkan dapat menangkap sesuatu dari bibirNya yang mereka dapat gunakan untuk mencela Dia, mengutus seorang pengacara kepadaNya dengan pertanyaan, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus membaca lembaran buku yang terbuka, dan jawabanNya kepada yang bertanya itu begini, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamu manusia seperti dirimu sendiri.”
”Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” Kata Yesus.  Pengacara itu tahu bahwa dengan jawabannya sendiri dia sudah mencela dirinya sendiri.  Dia tahu bahwa dia tidak mengasihi tetangganya seperti diri sendiri, dia bertanya, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Kristus menjawab pertanyaan ini dengan menceritakan peristiwa yang masih segar dalam ingatan para pendengarNya. Manuscript 117, 1903.

Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-prnyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya, dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.”

Dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho, pejalan kaki itu harus melewati sebagian dari padang belantara Yudea.  Jalan itu menurun ke satu tebing yang terjal, yang didiami oleh perampok dan sering tampak keganasan.  Di sinilah si pejalan kaki itu diserang, dipreteli semua barang berharga, dan meninggalkannya setengah mati tergeletak di pinggir jalan.  Sementara tergeletak begitu, lewatlah seorang imam dari jalan itu; dia melihat orang itu tergeletak dan terluka dan memar, berlumuran darahnya sendiri; tetapi dia meninggalkannya tanpa memberi pertolongan apapun.  “Tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.  Kemudian tampaklah seorang Lewi.  Karena ingin tahu apa yang telah terjadi, dia berhenti dan memandang penderita itu.  Dia merasa yakin atas apa yang harus ia lakukan, tetapi itu bukanlah tugas yang disetujui.  Dia ingin agar ia tidak melihat orang yang terluka itu.  Dia membujuk dirinya sendiri bahwa kasus itu bukan urusannya, dan dia juga  “melewatinya dari seberang jalan.”

Tetapi seorang Samaria, berjalan di jalan yang sama, melihat si penderita, dan ia melakukan pekerjaan yang orang lain itu tidak mau lakukan.  Dengan kelemahlembutan dia melayani orang yang terluka itu.  “Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan…  ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah itu ia menyiraminya dengan minyak dan anggur.  Kemudian ia menaikan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.  Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali.”

Sang imam dan orang lewi keduanya mengaku orang saleh, tetapi orang Samaria menunjukan bahwa dia benar-benar sudah bertobat.  Pekerjaan itu tidak lebih cocok bagi dia untuk melakukannya ketimbang bagi sang imam dan orang Lewi, tetapi dalam roh dan pekerjaan dia membuktikan dirinya seirama dengan Allah.  Dalam memberikan pelajaran ini, Kristus memperkenalkan prinsip hukum dengan cara langsung dan secara paksa, menunjukan kepada umatNya bahwa mereka telah mengabaikan pembawaan prinsip ini.  Kata-kataNya begitu pasti dan terarah sehingga para pendengarNya tidak menemukan kesempatan untuk bertengkar.  Pengacara itu tidak dapat menemukan apa yang dapat dikritiknya.  Purbasangka terhadap Kristus sudah dipindahkan.  Tetapi dia tidak mengatasi kebenciannya terhadap bangsa lain untuk memuji orang Samaria dengan namanya.  Ketika Kristus bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamn itu?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukan belas kasihan kepadanya.”

“Kemudian Yesus berkata kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Tunjukanlah kebaikan yang sama lembutnya bagi mereka yang membutuhkan.  Dengan demikian engkau memberikan bukti bahwa engkau memelihara hukum secara keseluruhan.  COL 379, 380.
  
Siapapun Dia, Yang Berkekurangan Adalah Sesama Kita.
Manusia manapun yang membutuhkan rasa simpati dan pertolongan kita adalah tetangga kita.  Yang sedang menderita dan yang papa dari semua tingkatan adalah sesama kita; dan ketika kita mengetahui kebutuhan mereka, adalah kewajiban kita untuk membebaskan sejauh mungkin.—4 226, 227.

Dengan perumpamaan ini sudah ditetapkan untuk selamanya kewajiban manusia terhadap sesamanya.  Kita mempedulikan setiap kasus penderitaan dan memandang diri kita sebagai perwakilan Allah untuk membebaskan yang berkekurangan sampai batas kesanggupan kita.  Kita menjadi mitra kerja Allah.  Sebagian menunjukkan kasih sayang yang meluap terhadap sanak famili, terhadap sahabat-sahabat mereka dan kesayangan mereka, mereka yang masih gagal berbuat baik, dan penuh perhatian kepada mereka yang membutuhkan kebaikan dan kasih sayang.  Dengan hati yang sungguh-sungguh, marilah kita bertanya, siapakah sesamaku? Sesama kita bukanlah sekedar teman sejawat dan sahabat dekat; mereka bukanlah anggota gereja atau siapa saja yang kita pikirkan.  Sesama kita adalah umat manusia secara keseluruhan.  Kita berbuat baik kepada semua manusia, khususnya mereka yang satu iman dengan kita.  Kita memberikan kepada dunia satu pertunjukan tentang apa artinya mengamalkan hukum Allah.  Kita mengasihi Allah dengan segenap hati dan sesama seperti diri kita sendiri.  RH, dan I, 1895.

Agama Yang Benar Disalahgambarkan.
Sang imam dan orang Lewi itu sudah pernah berbakti, yang acaranya ditentukan oleh Allah sendiri.  Adalah satu kesempatan besar dan tinggi untuk mengambil bagian dalam kebaktian; sang imam dan orang Lewi merasa bahwa sesudah dihormati begitu rupa, adalah di bawah derajat mereka untuk melayani seorang penderita yang tidak dikenal yang tergeletak di pinggir jalan.  Dengan demikian mereka mengabaikan kesempatan khusus yang ditawarkan Allah kepada mereka sebagai wakilNya untuk memberkati sesama manusia.

Sekarang ini banyak yang membuat kesalahan yang sama.  Mereka membagi tugas ke dalam dua kelas yang berbeda.  Kelas yang satu terdiri dari perkara-perkara besar, yang diatur oleh hukum Allah; kelas kedua terdiri dari apa yang disebut masalah-masalah kecil, di mana terdapat perintah, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri,” yang ini diabaikan.  Lingkungan pekerjaan ini bisa diubah sewaktu-waktu, dibawah kecenderungan atau gerak hati.  Dengan demikian tabiat dirusak dan agama Kristus disalahgambarkan.

Ada orang yang berpendapat bahwa itu akan merendahkan derajat melayani umat manusia yang sedang menderita.  Banyak yang melihat dengan acuh tak acuh dan merasa puas terhadap mereka yang membiarkan kaabah jiwa dalam keadaan rusak.  Yang lain mengabaikan orang miskin dengan motivasi yang berbeda.  Mereka bekerja, sebagaimana menurut kepercayaan mereka, dalam pekerjaan Kristus, berusaha membangun satu perusahaan yang berfaedah.  Mereka merasa bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan besar, dan mereka tidak mau mampir untuk memperhatikan kebutuhan orang yang berkekurangan dan menderita.  Dalam memajukan mereka yang dianggap besar itu, bahkan mereka menindas orang miskin.  Mereka boleh menempatkan orang miskin itu dalam keadaan yang sukar dan berat, tidak menghormati hak mereka dan mengabaikan kebutuhan mereka.  Namun mereka merasa bahwa semuanya ini dibenarkan karena mereka, sebagaimana pemikiran mereka, sedang memajukan pekerjaan Kristus.  COL 382, 383.

Jangkauan - Jauh Tuntutan Hukum Allah.
Membiarkan tetangga tetap menderita adalah satu pelanggaran hukum Allah.  Allah membawa imam sepanjang jalan agar dengan mata kepalanya sendiri dia boleh melihat satu kasus yang memerlukan kemurahan dan pertolongan; tetapi imam itu, walaupun memangku satu jabatan kudus, yang pekerjaannya seharusnya memberikan kemurahan dan berbuat baik, dia melewatinya dari seberang jalan.  Tabiatnya dinyatakan dalam kodrat yang sebenarnya di hadapan malaikat-malaikat Allah.  Untuk mengelabuhi orang dia dapat mengucapkan doa-doa yang panjang, tetapi dia tidak dapat mempertahankan prinsip hukum dalam mengasihi Allah dengan segenap hati dan sesama manusia seperti diri sendiri.  Orang Lewi itu berasal dari suku yang sama dengan penderita yang terluka dan memar.  Seluruh sorga memperhatikan sementara orang Lewi menuruni jalan itu, melihat apakah hatinya terjamah atau tersentuh dengan penderitaan umat manusia.  Sementara dia memandang orang itu, dia diyakinkan tentang apa yang ia harus lakukan; tetapi karena tugas itu bukan yang disetujui, dia ingin agar tidak melewati jalan itu, agar dia tidak melihat orang itu yang terluka dan memar, telanjang dan sedang sekarat, dan membutuhkan pertolongan dari sesama manusia.  Dia terus berjalan, membujuk dirinya bahwa tidak ada urusannya dengan itu, dan dia tidak perlu terganggu dengan urusan itu.  Menegakkan dirinya seorang pembeber hukum, menjadi pelayan dalam perkara-perkara kudus, dia tetap berlalu dari seberang jalan.

Diselubungi dalam tiang awan, Tuhan Yesus telah memberikan petunjuk khusus tentang perlakuan tindakan kemurahan terhadap manusia dan binatang.  Sementara hukum Allah menuntut hukum Allah yang tertinggi dan kasih yang tidak memihak terhadap sesama kita adalah tuntutan jangkauan jauh, juga memasukkan hewan ciptaan dungu yang tak dapat dengan kata-kata mengungkapkan kebutuhan dan penderitaannya.  ”Apabila engkau melihat keledai saudaramu atau lembunya rebah di jalan, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; engkau harus benar-benar menolong membangunkannya bersama-sama dengan saudaramu itu.” Ulangan 22:4.  Dia yang mengasihi Allah bukan hanya mau mengasihi sesamanya manusia, tetapi akan menghargai dengan rasa iba yang lemah lembut binatang peliharaan yang telah di ciptakan Allah.  Kalau Roh Allah berada dalam manusia, itu menuntun dia untuk menghilangkan penderitaan, bukan untuk membangkitkannya.  RH, Jan. 1, 1895.

Prinsip Hukum Allah Dilupakan.
Sang imam dan orang Lewi itu tidak dimaafkan karena pengabaikan dengan sikap hati dingin, Hukum kemurahan dan kebaikan hati jelas disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama.  Adalah pekerjaan yang sudah ditentukan bagi mereka untuk melayani kasus seperti itu sebagaimana seorang yang mereka lewati dengan hati dingin.  Sekiranya mereka menuruti hukum yang mereka hormati menurut mereka, mereka tidak akan melawati orang ini tanpa menolongnya.  Tetapi mereka sudah melupakan prinsip hukum yang Kristus telah berikan kepada nenek moyang mereka sementara Dia menuntun mereka sepanjang padang belantara melalui tiang awan yang menyelubungiNya.

Siapakah sesamaku? Inilah pertanyaan yang perlu dipahami semua gereja kita.  Sekiranya sang imam dan orang Lewi membaca dan memahami sandi Ibrani, akan jauh berbeda pelayanan mereka terhadap orang yang terluka itu.  Manuscript 117, 1903.

Kondisi Untuk Mewarisi Hidup Kekal.
Kondisi untuk mewarisi hidup kekal jelas dikatakan Juruselamat kita dengan cara yang paling sederhana.  Orang yang dirampok dan dilukai mewakili mereka yang menjadi target keinginan, rasa simpati dan amal kita, jikalau kita mengabaikan kasus yang berkekurangan dan yang malang yang dibawa ke bawah perhatian kita, tak peduli siapakah mereka, kita tidak memiliki jaminan hidup kekal; karena kita tidak menanggapi tuntutan Allah bagi kita.  Kita tidak berbelas kasihan dan merasa terharu terhadap umat manusia, karena mereka mungkin kenalan atau sanak kita.  Engkau didapati melanggar hukum besar yang kedua kemana bergantung enam hukum terakhir lainnya.  Barangsiapa melanggar satu melanggar sepuluh.  Mereka yang tidak membuka hati mereka kepada kebutuhan dan penderitaan umat manusia tidak akan membuka hati mereka kepada tuntutan Allah sebagaimana disebut dalam empat nasihat pertama dari Sepuluh Firman.  Berhala mendambakan perhatian dan kasih sayang, dan Allah tidak dihormati dan tidak memerintah dalam posisi tertinggi. 3T 524.

Kesempatanmu dan Kesempatanku.
Sekarang ini Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk menunjukkan apakah mereka mengasihi sesama manusia.  Dia yang benar-benar mengasihi Allah dan sesama manusia adalah dia yang menunjukkan kemurahan kepada orang yang papa dan melarat, yang menderita, yang terluka, dan mereka yang sekarat diap untuk mati.  Allah memanggil atau melakukan pekerjaan yang terabaikan itu, berusaha memulihkan gambar Pencipta dalam rupa manusia.  Letter 113, 1901.

Bagaimana Kita Mengasihi Sesama Manusia Seperti Diri Kita Sendiri.
Kita dapat mengasihi sesama seperti diri kita sendiri sebagaimana kita mengasihi Allah di atas segala sesuatu.  Kasih Allah akan mengeluarkan buah kasih kepada sesama kita.  Banyak mengira bahwa kita tidak dapat mengasihi sesama sebagai diri kita sendiri, tetapi hanya itulah buah sejati dari Kekristenan.  Kasih kepada orang lain menempatkan Yesus Kristus berjalan dan bekerja bersama kita.  Dengan demikian kita tetap memandang kepada Yesus, yang memimpin dan menyempurnakan iman kita.  RH, June 26, 1894.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar